Pengunaan Air Terbanyak – Salah satu sumber air minum yang sering digunakan di kota-kota adalah air dari keran, yakni air yang dialirkan melalui saluran pipa dari sistem pasokan air minum (PDAM atau perusahaan air lokal).
Air keran biasanya telah melewati proses pengolahan sehingga aman untuk diminum, meskipun dalam kenyataannya seringkali masih perlu dimasak terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada Maret 2024, air ledeng dianggap sebagai air minum yang layak.
Sedangkan kriteria air minum yang bersih meliputi:
* Air kemasan bermerk,
* Air isi ulang,
* Air ledeng,
* Sumur bor atau pompa,
* Sumur terlindung, serta
* Sumber air terlindungi (dengan jarak minimal 10 meter dari sumber limbah atau kotoran).
Sementara akses terhadap air minum yang layak mencakup penggunaan air dari keran, sumur bor/pompa, sumur yang dilindungi, mata air yang terlindung, air hujan, serta air kemasan merek/isi ulang dengan syarat bahwa sumber utama air untuk kebutuhan sehari-hari tetap berasal dari sumber yang aman.
Kondisi di Kalimantan Timur
Berdasarkan data BPS 2024, sebagian besar keluarga di Kalimantan Timur lebih sering memakai air kemasan merek dan air isi ulang untuk dikonsumsi, yaitu mencapai 82,64 persen.
Sementara itu, penggunaan air minum dari saluran (air pipa/PDAM) hanya mencapai 9,99 persen.
Nomor ini menunjukkan bahwa meskipun air minum dari keran tersedia di berbagai kabupaten dan kota, masyarakat lebih memilih air dalam kemasan atau isi ulang sebagai sumber utama air minum.
Alasannya beragam, mulai dari pandangan mengenai kualitas air keran yang masih perlu dimasak, hingga faktor kemudahan memperoleh air minum dalam kemasan dengan harga yang cukup murah.
Namun, penggunaan air minum di berbagai daerah di Kalimantan Timur menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan.
1. Kota Balikpapan — 16,50 persen
Kota-kota industri serta kota besar yang memiliki sistem PDAM yang cukup berkembang.
Persentase ini merupakan yang terbesar di provinsi tersebut — namun tetap jauh lebih rendah dibanding penggunaan air kemasan/isi ulang di Balikpapan (82,02 persen).
2. Kota Samarinda — 14,70 persen
Sebagai ibu kota provinsi, Samarinda menunjukkan tingkat penggunaan air minum yang cukup tinggi, namun sebagian besar keluarga masih memilih air kemasan atau isi ulang (84,06 persen).
3. Kabupaten Berau — 11,73 persen
Kemungkinan tinggi relatif untuk kabupaten; dapat mencerminkan jangkauan jaringan pipa yang menjangkau beberapa permukiman atau kecenderungan masyarakat setempat terhadap air minum dari keran.
4. Kabupaten Paser — 9,70 persen
Hampir mendekati rata-rata provinsi (9,99 persen). Namun sebagian besar masih menggunakan air kemasan (72,34 persen).
5. Kota Bontang — 7,48 persen
Kota Bontang memperlihatkan penggunaan air dari saluran; sekali lagi, air kemasan mendominasi (92,16 persen).
6. Kabupaten Kutai Kartanegara — 6,85 persen
Meski termasuk kabupaten yang besar, penggunaan air dari keran untuk diminum masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan air dalam kemasan (89,80 persen).
7. Kabupaten Kutai Barat — 5,80 persen
Ketersediaan atau mutu layanan air minum kemungkinan terbatas, sehingga dominasi air kemasan (61,01 persen) masih sangat besar.
Lebih Baik Mana Mengonsumsi Air Minum atau Air Rebusan?
Banyak masyarakat di Indonesia biasanya meminum air yang diambil dari keran dan kemudian dipanaskan dengan api.
Banyak orang percaya bahwa dengan memasak air dapat membunuh kuman atau bakteri yang terkandung di dalamnya, sehingga air tersebut aman untuk dikonsumsi.
Namun, ada pula yang menganggap bahwa minum air kemasan lebih baik untuk kesehatan, meskipun harganya cukup mahal.
Meskipun demikian, konsumsi air minum dalam kemasan baik botol maupun galon yang terus meningkat, dilaporkan oleh Healthline pada hari Rabu (22 Februari 2023), telah menyebabkan dampak negatif terhadap lingkungan.
Akhirnya banyak orang mulai mempertanyakan, apakah air keran lebih baik untuk diminum agar mengurangi dampak negatif dari mengonsumsi air kemasan. Lalu, yang mana lebih baik dan sehat, apakah air kemasan atau air yang direbus?
Sebelum kita mengetahui mana yang lebih baik antara air rebus atau air minum kemasan, pahami perbedaan kedua jenis air minum ini, yang mungkin bisa menjadi pertimbangan sebelum memutuskan mana yang lebih sehat dari kedua jenis air minum tersebut.
Air Mineral dalam Kemasan
Air kemasan biasanya berasal dari sumber air tanah. Air minum dalam kemasan ini telah memiliki sertifikat keamanan dan izin beredar dari lembaga pengawas makanan dan minuman, serta obat, sedangkan di Amerika Serikat, air kemasan ini telah disahkan oleh FDA.
Meskipun banyak orang menganggap dan percaya bahwa air minum kemasan lebih aman serta lebih enak dibandingkan air dari keran, terdapat berbagai kekhawatiran mengenai dampak yang bisa timbul dari produk air kemasan, seperti masalah keamanan dan pengaruh terhadap lingkungan.
Di Amerika Serikat, produksi minuman dalam kemasan di negara tersebut membutuhkan 1,8 miliar kilogram plastik hanya pada tahun 2016. Sementara itu, energi yang diperlukan untuk menghasilkan jumlah ini jauh lebih besar, setara dengan 64 juta barel minyak.
Selain itu, hanya 20 persen dari botol plastik yang bisa dipulihkan kembali, hal ini sangat menjadi masalah, karena botol plastik telah terbukti melepaskan zat beracun saat mengalami degradasi.
Beberapa produk air minum mungkin mengandung partikel plastik sangat kecil yang dikenal sebagai mikroplastik.
Bahkan, beberapa penelitian pada hewan dan studi lainnya yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Report menunjukkan bahwa mikroplastik merupakan bahan kimia yang mampu mengganggu fungsi endokrin.
Selain itu, dampak negatif mikroplastik terhadap kesehatan juga bisa memicu peradangan. Jika menumpuk seiring berjalannya waktu, hal ini dapat mengganggu fungsi organ seperti hati, ginjal, dan usus.
Air Minum yang Direbus dari Keran
Air minum berasal dari sumber seperti sumur, danau, atau waduk, yang umumnya melalui proses pengolahan sebelum disalurkan ke rumah tangga.
Tantangan yang dihadapi air minum yang berasal dari keran dan digunakan dalam kegiatan sehari-hari adalah rentan tercemar.
Di beberapa wilayah, air ini mungkin tercemar akibat paparan zat beracun seperti polutan industri atau bakteri dari aliran air pertanian.
Selain itu, saluran pipa yang sudah usang dapat menyebabkan pencemaran timbal, dan bencana alam seperti banjir juga bisa menjadi penyebab kontaminasi yang berpotensi mengotori sistem air umum sementara waktu.
Karena itu, untuk mengatasi dan menghindari masalah ini, penerapan filter air rumah tangga dapat meningkatkan kualitas air keran, sehingga air menjadi layak untuk diminum.
Mengenai rasa, meskipun air minum kemasan dianggap lebih lezat, air dari keran yang direbus memiliki rasa yang sama. Namun, jenis dan usia pipa air yang digunakan dapat memengaruhi rasa air keran tersebut.
Secara keseluruhan, baik air dari keran yang telah dimasak maupun air dalam kemasan dianggap sebagai metode yang efektif untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh dan menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan baik.
Namun, air keran biasanya menjadi pilihan terbaik, karena seaman dengan air minum dalam kemasan. Selain itu, harganya jauh lebih murah dan memiliki dampak lingkungan yang jauh lebih kecil.
Namun, dalam kondisi tertentu, air kemasan bisa jadi lebih baik, terutama jika pasokan air minum Anda tercemar.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Manakah yang Lebih Sehat, Minum Air Mineral atau Rebusan?”







