Home / Uncategorized / Aneh, Israel Kirim Influencer ke Gaza Tapi Larang Jurnalis Masuk?

Aneh, Israel Kirim Influencer ke Gaza Tapi Larang Jurnalis Masuk?

Laporan8.com Pekan lalu, pihak Israel kirim influencer ke Gaza, para influencer dari Amerika Serikat dan negara tersebut ke Jalur Gaza, wilayah Palestina yang telah menjadi sasaran serangan sejak 7 Oktober 2023. Mereka diberi kesempatan untuk melihat langsung situasi kemanusiaan di area tersebut dan membagikan pengalaman mereka melalui media sosial.

Influencer-influencer ini dijaring oleh Kementerian Urusan Diaspora Israel. Tujuan utamanya adalah untuk menunjukkan kondisi nyata di Gaza, terutama dalam hal distribusi bantuan kemanusiaan. Mereka diajak mengunjungi lokasi-lokasi penyaluran bantuan yang dikelola oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF), sebuah lembaga asal AS yang didukung oleh Israel. GHF mulai beroperasi sejak 27 Mei lalu setelah Israel memberikan akses terbatas bagi bantuan masuk ke wilayah tersebut.

Selama masa ini, lebih dari 1.000 warga Palestina tewas saat mencari bantuan. Angka kelaparan dan malnutrisi juga meningkat drastis akibat pembatasan makanan dan bantuan yang dilakukan Israel selama beberapa bulan. Meski begitu, pihak Israel terus membantah adanya kelaparan di Gaza, yang memiliki populasi lebih dari dua juta jiwa.

Pernyataan dari Pemerintah Israel

Pemerintah Israel menyatakan bahwa tujuan dari kunjungan para influencer adalah untuk “mengungkap kebenaran” tentang kondisi di Gaza. Mereka menilai bahwa berita-berita yang disampaikan oleh media asing sering kali tidak objektif dan didominasi oleh narasi Hamas. Dalam pernyataannya, pihak Israel mengklaim bahwa tur ini bertujuan untuk melawan kampanye “kelaparan” yang digaungkan oleh Hamas guna merusak citra Israel di dunia internasional.

Salah satu influencer yang ikut dalam kunjungan ini adalah Xaviaer DuRousseau, yang memiliki ratusan ribu pengikut di media sosial. Ia membagikan cuitan pada 20 Agustus yang menyatakan bahwa Israel tidak memblokir bantuan makanan. Ia menulis bahwa ada cukup makanan di gudang bantuan untuk memberi makan seluruh penduduk Gaza selama seminggu. Namun, ia menyoroti bahwa bantuan tersebut tidak tersalurkan secara efisien karena penolakan dari organisasi seperti PBB dan Hamas.

Daftar Influencer yang Terlibat

Selain Xaviaer, para influencer lain yang dibawa ke Gaza antara lain Brooke Goldstein, seorang pengacara dari Miami; Marwan Jaber, seorang remaja Israel dari komunitas Druze; Jeremy Abramson, seorang warga Yahudi AS yang tinggal di Israel; serta Shiraz Shukrun dan David Mayofis, dua kreator konten Israel. Mereka semua memiliki pengikut yang signifikan di media sosial, sehingga pesan yang mereka bagikan bisa menjangkau banyak orang.

Namun, di sisi lain, pihak Israel juga melarang badan PBB yang bertugas menyediakan bantuan bagi pengungsi Palestina, UNRWA, untuk beroperasi. Bahkan, pasukan Israel kerap menyerang pekerja UNRWA di Gaza, yang menambah kompleksitas situasi kemanusiaan di sana.

Konfirmasi Kelaparan oleh PBB

Pada 15 Agustus 2025, Integrated Food Security Phase Classification (IPC), badan keamanan pangan yang didukung PBB, mengumumkan bahwa kelaparan (IPC Fase 5) telah dikonfirmasi di wilayah Kegubernuran Gaza. Lebih dari setengah juta orang di Gaza mengalami kelaparan, kemelaratan, dan kematian. Pada akhir September 2025, jumlah penduduk Gaza yang mengalami kelaparan diperkirakan akan meningkat menjadi 641.000 orang.

Dalam pernyataannya, Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk HAM (OHCHR) menyatakan bahwa kelaparan di Gaza merupakan akibat langsung dari tindakan pemerintah Israel. Mereka menilai bahwa pembatasan masuknya bantuan kemanusiaan dan barang-barang penting untuk kelangsungan hidup penduduk sipil di Gaza adalah tindakan yang melanggar hukum internasional.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut kelaparan di Gaza sebagai “bencana buatan manusia” dan “kegagalan kemanusiaan.” Ia menekankan bahwa Israel, sebagai pihak yang menduduki Gaza, berkewajiban untuk menyediakan makanan dan persediaan medis bagi penduduk setempat. “Tidak ada lagi alasan. Waktu untuk bertindak bukan besok – sekarang,” ujarnya.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *