Home / EKONOMI / Menteri Keuangan Baru 2025, Kestabilan Sektor Keuangan, dan Ruang Gerak Perbankan

Menteri Keuangan Baru 2025, Kestabilan Sektor Keuangan, dan Ruang Gerak Perbankan

Menteri Keuangan Baru 2025Pergantian Menteri Keuangan dari Sri Mulyani ke Purbaya Yudhi Sadewamencatatkan bab baru dalam perjalanan fiskal yang akan berdampak pada stabilitas keuangan, khususnya sektorperbankan.

Sebagai Menteri Keuangan, Purbaya secara otomatis memimpin Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), sebuah forum strategis yang terdiri dari Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Dari pertemuan komite ini, arah stabilitas keuangan nasional sering ditentukan.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menekankan perlunya kerja sama antar lembaga dalam menjaga kepercayaan masyarakat. Menurutnya, koordinasi antara Kementerian Keuangan, OJK, BI, dan LPS akan semakin penting di tengah situasi yang penuh ketidakpastian saat ini.

Yang kita harapkan adalah koordinasi ke depan semakin meningkat. Dalam menghadapi situasi yang masih uncertain, kita memerlukan pengambilan keputusan bersama yang saling mendukung untuk memperkuat stabilitas sistem keuangan,” kata Dian saat diwawancarai di Jakarta, Selasa (9/9/2025)

Ia menambahkan bahwa arah kebijakan fiskal memang berdampak signifikan terhadap kondisi perbankan. Ekspansi fiskal dapat mendukung likuiditas, tetapi disiplin fiskal tetap diperlukan untuk menjagaconfidenceatau kepercayaan diri para investor lokal maupun internasional.

Confidencemasyarakat investasi global maupun lokal akan semakin stabil dengan disiplin keuangan yang baik. Hal ini perlu dipertahankan di masa depan,” ujar Dian.

Selama hampir sepuluh tahun terakhir, kredibilitas fiskal Indonesia banyak didukung oleh kepemimpinan Sri Mulyani. Pada masa pandemi Covid-19, ia dianggap mampu mempertahankan keseimbangan antara pengeluaran negara yang luas dan disiplin anggaran agar defisit tetap dalam kendali.

Kini, pasar menantikan bagaimana Purbaya melanjutkan warisan tersebut. Kepala Penelitian Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menganggap masyarakat memiliki harapan agar Menteri Keuangan yang baru dapat dipercaya seperti pendahulunya.

“Pasar sangat mengharapkan munculnya sosok seperti Ibu Sri Mulyani yang dianggap dapat dipercaya oleh pasar dalam dan luar negeri. Tantangan awal Purbaya adalah menenangkan pasar, memulihkan kepercayaan investor, serta menjaga agar defisit APBN tidak terlalu besar,” katanya.

Trioksa menganggap bahwa hubungan antara fiskal dan perbankan saat ini tetap stabil dengan tingkat likuiditas dan modal yang baik, serta didukung oleh inflasi dan suku bunga acuan yang terkendali. Namun, kebutuhan pendanaan program pemerintah yang besar memerlukan kehati-hatian dalam kebijakan fiskal agar tidak memberatkan rakyat kecil.

“Pendapatan negara perlu diatur tanpa memberatkan rakyat kecil, terutama melalui pajak, sekaligus mencari sumber pendapatan yang lebih baru,” tambahnya.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (di sebelah kiri kedua) bersama Wakil Menteri Suahasil Nazara (di sebelah kiri), Wakil Menteri Thomas Djiwandono (di sebelah kanan kedua), dan Wakil Menteri Anggito Abimanyu memberikan pernyataan pers saat menerima kunjungan di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (8/9/2025). JIBI/Bisnis/Arief Hermawan P

Pandangan berbeda juga datang dari ahli perbankan di Binus University, Doddy Ariefianto. Menurutnya, harapan pasar terhadap Purbaya cukup besar, namun diiringi dengan keraguan.

“Bu Sri Mulyani merupakan tokoh yang”highly respectabledi mata para pelaku pasar dan lembaga multilateral. Background pendidikan Purbaya comparable, tapi track recordtidak. Oleh karena itu, respons awal pasar cenderung ragu,” jelasnya.

Doddy menekankan bahwa ruang fiskal Indonesia semakin sempit. “Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara kita bersifat ekspansif, tetapi pendanaannya terbatas,”tax ratiokondisi yang stagnan, pertumbuhan melambat, kelas menengah melemah, serta ruang untuk utang tidak besar. Dalam situasi ini diperlukan kemampuan berpikirout of the box, tetapi tetap terlihat aman dan memiliki wibawa di mata para pelaku pasar,” katanya.

Ia juga menekankan hubungan yang erat antara kebijakan fiskal dengan sektor perbankan karena pemerintah merupakan pelaku ekonomi utama, baik melalui pengeluaran APBN maupun aturan pajak. “Terlebih dalam kondisi global yang stagnan, koordinasi fiskal dan moneter akan menjadi tantangan berat bagi Menteri Keuangan yang baru,” tambahnya.

Dari segi industri, pelaku perbankan juga menyampaikan pendapatnya. Direktur Kepatuhan Bank Oke Efdinal Alamsyah menganggap stabilitas fiskal akan sangat memengaruhi kemampuan perbankan dalam bergerak.

“Harapan kami, menteri keuangan yang baru mampu menjaga stabilitas sistem perbankan melalui kerja sama yang erat dengan BI, OJK, dan LPS. Dengan lingkungan usaha yang baik, sektor perbankan akan memiliki ruang yang lebih luas untuk berkembang, meningkatkan peran perantara, serta memperkuat keyakinan masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Wakil Presiden Eksekutif Corporate Communication & Social Responsibility BCA menyampaikan komitmen untuk mendukung kebijakan fiskal di bawah kepemimpinan Purbaya. “Sebagai bank nasional, BCA berkomitmen mendukung kebijakan Kementerian Keuangan,” katanya singkat.

PR Purbaya dalam Memelihara Kestabilan Keuangan

Tantangan yang dihadapi Purbaya memang tidak ringan. Pada tingkat global, kebijakan moneter Amerika Serikat masih berada di tahaphigher for longerdengan tingginya suku bunga The Fed, yang menghambat aliran modal ke negara-negara berkembang.

Selain itu, pasar obligasi dunia juga mengalami perubahan, sehingga penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) untuk mendanai defisit APBN berpotensi menghadapi tekanan biaya bunga.

Di sisi lain, tax ratioIndonesia masih mengalami stagnasi di kisaran 10% hingga 11% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), lebih rendah dibandingkan rata-rata negara-negara lain.peers, sehingga ketersediaan anggaran untuk mendanai program prioritas terbatas.

Di APBN 2025, pemerintah menetapkan target defisit sekitar 2,5% hingga 2,8% terhadap PDB, namun kebutuhan pengeluaran untuk pembangunan infrastruktur, subsidi energi, dan program yang bersifat populis bisa meningkatkan tekanan.

Pada situasi tersebut, kredibilitas fiskal tidak hanya ditentukan oleh angka-anggaran, tetapi juga oleh keseragaman komunikasi dan arah kebijakan. Trioksa menegaskan agar gaya komunikasi Menteri Keuangan yang baru tidak menimbulkan ketidakstabilan.

“Pasar menginginkan stabilitas di sektor keuangan. Oleh karena itu, Menteri Keuangan baru perlu meminimalkan gaya komunikasi yang bisa memicu perdebatan di kalangan masyarakat,” tegas Trioksa.

Tugasnya jelas tidak mudah, yaitu menyeimbangkan ambisi fiskal pemerintah dengan keterbatasan anggaran, sambil menjaga kestabilan sistem keuangan tetap terjaga.

“PR Purbaya adalah menenangkan pasar, memulihkan kepercayaan investor, serta menjaga agar defisit APBN tidak terlalu besar,” tambah Trioksa. Menurut analis, dalam situasi ini diperlukan kemampuan berpikirout of the box, tetapi tetap terjaga dan berwibawa.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *