Laporan8.com – Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang pasti ingin merasa dihargai atas usaha yang dilakukan. Namun, ketika keinginan tersebut berubah menjadi kebutuhan yang tidak terpenuhi, munculah fenomena yang dikenal sebagai kecanduan validasi sosial.
Fenomena ini semakin marak sejak media sosial berkembang pesat, di mana jumlah “like” dan komentar sering kali menjadi tolok ukur harga diri seseorang.
Menurut psikolog Indah SJ, M.Psi., kecanduan validasi sosial terjadi ketika seseorang merasa bahwa identitas dan nilai dirinya hanya ditentukan oleh pendapat orang lain.
Hal ini sering kali bermula dari pengalaman masa kecil, khususnya ketika anak tidak mendapatkan apresiasi yang cukup.
Ketika dewasa, kebutuhan akan validasi ini dibawa ke lingkungan sosial yang lebih luas, sehingga memengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan orang lain.
Kecanduan validasi sosial bukanlah masalah yang hanya dialami remaja. Menurut kanal edukasi Si Kutu Buku, fenomena ini bisa terjadi pada siapa saja, termasuk orang dewasa.
Misalnya, seseorang mungkin selalu ingin terlihat sempurna di tempat kerja atau tidak bisa menolak permintaan orang lain demi menjaga citra.
Akibatnya, keputusan hidup sering kali tidak berasal dari keinginan pribadi, melainkan karena ingin memenuhi ekspektasi sosial.
Tanda-Tanda Anda Kecanduan Validasi Sosial
Salah satu tanda utama kecanduan validasi adalah rasa gelisah ketika tidak mendapat respons dari orang lain. Contohnya, beberapa orang bisa kehilangan semangat hanya karena unggahan mereka tidak mendapat komentar. Bahkan, mereka merasa harga diri mereka turun ketika tidak mendapat perhatian dari orang lain.
Selain itu, akun TikTok @karinaustinn menyebutkan bahwa orang yang kecanduan validasi sering kali sulit mengatakan “tidak”.
Mereka takut ditolak atau tidak disukai, sehingga lebih memilih menuruti permintaan orang lain meski hal tersebut mengorbankan diri sendiri. Pola ini menciptakan hubungan yang tidak sehat dan dapat menekan kesehatan mental.
Psikolog Indah SJ juga menekankan bahwa dampak kecanduan validasi sangat serius. Ketika seseorang terus-menerus menunggu pengakuan eksternal, ia rentan mengalami kekecewaan, kecemasan, hingga depresi. Alih-alih merasa bebas, hidupnya justru dikendalikan oleh penilaian orang lain.
Dari sudut pandang psikologis, fenomena ini berkaitan dengan konsep self-worth atau harga diri. Mereka yang tidak memiliki dasar harga diri yang kuat cenderung lebih mudah terjebak dalam kebutuhan validasi. Akibatnya, energi emosional habis untuk memenuhi ekspektasi orang lain, sementara kebutuhan pribadi terabaikan.
Cara Keluar dari Lingkaran Kecanduan Validasi
Bagaimana cara keluar dari lingkaran kecanduan validasi? Menurut kanal Si Kutu Buku, langkah pertama adalah menyadari pola perilaku yang tidak sehat.
Dengan mengenali kapan seseorang mulai cemas karena kurang pengakuan, ia bisa mulai mengatur responsnya secara lebih baik.
Psikolog Indah SJ menyarankan untuk melatih self-affirmation. Dengan membiasakan diri mengatakan hal positif pada diri sendiri, seseorang bisa membangun fondasi harga diri yang lebih kuat. Misalnya, mengapresiasi usaha kecil yang sudah dilakukan tanpa menunggu komentar orang lain.
Selain itu, akun @karinaustinn menekankan pentingnya menetapkan batasan sehat dalam berhubungan. Berani menolak ketika tidak sanggup atau tidak setuju adalah bagian dari menjaga kesehatan mental. Hal ini sekaligus mengurangi ketergantungan pada pengakuan eksternal.
Dukungan sosial yang tepat juga berperan besar. Akun @mudahbergaul menekankan bahwa berada di lingkungan yang suportif dapat membantu seseorang lebih percaya diri tanpa harus selalu mencari validasi. Lingkungan yang menerima diri apa adanya akan mendorong individu untuk merasa cukup dengan dirinya sendiri.
Fenomena kecanduan validasi sosial menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari jumlah like atau komentar, melainkan dari penerimaan diri yang sehat.
Dengan latihan konsisten, kesadaran diri, dan dukungan lingkungan, setiap orang bisa melepaskan diri dari jerat validasi sosial yang melelahkan.
Pada akhirnya, validasi memang menyenangkan, tetapi tidak seharusnya menjadi sumber utama harga diri. Menemukan nilai diri dari dalam adalah kunci agar seseorang bisa hidup lebih autentik, bebas, dan sehat secara mental.







