Home / EKONOMI / Koperasi / Sosok Ferry Juliantono, Mantan Aktivis Jadi Menteri Koperasi

Sosok Ferry Juliantono, Mantan Aktivis Jadi Menteri Koperasi

Laporan8.com Ferry Juliantono adalah sosok yang baru saja dilantik sebagai Menteri Koperasi dalam reshuffle kabinet oleh Presiden Prabowo Subianto. Jabatan ini menjadi titik awal baru dalam perjalanan karier politik dan sosialnya. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Wakil Menteri Koperasi bersama Budi Arie Setiadi.

Ferry Juliantono lahir di Jakarta pada 27 Juli 1967. Pendidikan dasarnya diselesaikan di SD Duren Tiga 07 Pagi Jakarta pada tahun 1980, kemudian melanjutkan ke SMP Sumbangsih (1984) dan SMA Mahardhika Surabaya (1987).

Ia lulus dengan gelar sarjana akuntansi dari Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran (1993), lalu meraih gelar magister hubungan internasional dengan spesialisasi ekonomi politik internasional dari FISIP Universitas Indonesia (2006), serta gelar doktor sosiologi dari Universitas Indonesia.

Sebagai politisi, Ferry tidak asing bagi dunia koperasi dan masyarakat. Ia dikenal sebagai aktivis, penggerak koperasi, dan tokoh masyarakat sejak dekade 1990-an.

Sebelum terjun ke politik penuh, ia pernah bekerja sebagai auditor, konsultan, dan komisaris di berbagai perusahaan. Selain itu, ia juga aktif dalam isu-isu seperti agraria, buruh, nelayan, dan koperasi.

Di ranah politik, Ferry merupakan kader senior Partai Gerindra dan pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra.

Selain itu, ia juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Syarikat Islam (2021–2026) dan Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran (2024–2028). Pada 2025, ia ditunjuk sebagai Komisaris PT Pertamina Patra Niaga melalui Rapat Umum Pemegang Saham.

Harta Kekayaan Ferry Juliantono

Setelah dilantik sebagai Menteri Koperasi, Ferry Juliantono memiliki total harta kekayaan sebesar Rp 52,39 miliar. Laporan tersebut disampaikan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 29 November 2024 saat ia masih menjabat sebagai Wakil Menteri Koperasi.

Aset terbesar berasal dari kepemilikan tanah dan bangunan senilai Rp 48,9 miliar, tersebar di beberapa lokasi strategis:

  • Tanah dan bangunan di Tangerang Selatan senilai Rp 15 miliar.
  • Bangunan di Jakarta Selatan senilai Rp 9 miliar.
  • Tanah di Gianyar, Bali senilai Rp 8 miliar.
  • Aset properti lainnya di Bogor, Jakarta Selatan, Badung, dan Klungkung dengan nilai antara Rp 2,9 miliar hingga Rp 5 miliar.

Selain properti, Ferry juga memiliki kendaraan mewah senilai total Rp 3,32 miliar, termasuk Toyota Alphard 2.5 G AT (2017) senilai Rp 1,2 miliar, Mercedes Benz S 400 L AT (2015) senilai Rp 1,023 miliar, dan BMW X5 (2017) senilai Rp 800 juta.

Dalam laporannya, Ferry mencatatkan utang sebesar Rp 5 miliar. Setelah dikurangi utang, total harta kekayaan bersihnya mencapai Rp52.398.000.000.

Pesan Presiden untuk Ferry Juliantono

Setelah dilantik, Ferry mengaku sempat bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Bogor. Dalam pertemuan tersebut, Presiden menitipkan beberapa program perkoperasian. Salah satunya adalah pengembangan Koperasi Desa yang akan dilengkapi dengan pembangkit listrik tenaga surya atau solar panel.

Program ini diharapkan menjadikan desa sebagai badan energi. Tahap awal fokus pada enam kegiatan utama: gerai, toko, apotek desa, klinik desa, gudang logistik, serta usaha perkreditan atau simpan pinjam. Setiap Koperasi Desa mendapat plafon sebesar Rp3 miliar yang bisa dicairkan.

Pemerintah akan melakukan sosialisasi intensif agar pengurus Koperasi Desa memahami cara pencairan dana tersebut. Menurut Ferry, sistem informasi dan model bisnis saat ini tidak terlepas dari kepemimpinan Budi Arie. Dengan fondasi tersebut, Kementerian Koperasi merasa lebih ringan melanjutkan program.

Selain itu, Komisi VI DPR RI mendukung Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih sebagai proyek unggulan nasional. Undang-Undang Perkoperasian akan diubah menjadi Undang-Undang Sistem Perkoperasian Nasional dengan perubahan lebih dari 60 persen.

Ferry berharap dengan undang-undang baru dan status proyek strategis nasional, Koperasi Desa dapat semakin kuat secara legal maupun operasional. Program ini juga memerlukan data desa yang akurat, sehingga Koperasi Desa benar-benar menjadi alat perjuangan ekonomi sekaligus didukung data presisi.

“Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih diharapkan bisa menjadi solusi masalah di desa maupun perkotaan, sekaligus wadah bagi anak-anak muda dan generasi milenial untuk berkontribusi,” ujarnya.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *